Surplus Neraca Perdagangan

Surplus Neraca Perdagangan Januari 2026 Capai 0,95 Miliar Dolar AS, Bank Indonesia Optimistis Ketahanan Eksternal Makin Kuat

Surplus Neraca Perdagangan Januari 2026 Capai 0,95 Miliar Dolar AS, Bank Indonesia Optimistis Ketahanan Eksternal Makin Kuat
Surplus Neraca Perdagangan Januari 2026 Capai 0,95 Miliar Dolar AS, Bank Indonesia Optimistis Ketahanan Eksternal Makin Kuat

JAKARTA - Ketahanan eksternal Indonesia kembali mendapat dorongan pada awal tahun ini setelah neraca perdagangan mencatatkan surplus. Bank Indonesia (BI) menilai capaian tersebut menjadi sinyal positif bagi stabilitas ekonomi nasional.

Bank Indonesia (BI) menilai surplus neraca perdagangan pada Januari 2026 sebesar 0,95 miliar dolar AS positif untuk terus menopang ketahanan eksternal perekonomian Indonesia. Surplus ini menunjukkan kesinambungan kinerja sektor eksternal di tengah dinamika global.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada Senin, 2 Maret 2026, surplus neraca perdagangan pada periode tersebut melanjutkan capaian bulan sebelumnya. Pada bulan sebelumnya, surplus tercatat sebesar 2,51 miliar dolar AS.

Keberlanjutan surplus ini mencerminkan daya tahan sektor perdagangan Indonesia. Kondisi tersebut sekaligus memberikan ruang stabilitas bagi nilai tukar dan cadangan devisa.

Sinergi Kebijakan untuk Perkuat Ketahanan Eksternal

“Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas lain guna makin memperkuat ketahanan eksternal dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa. Pernyataan ini menegaskan komitmen otoritas moneter menjaga stabilitas makroekonomi.

Sinergi kebijakan dinilai penting untuk merespons ketidakpastian global. Koordinasi yang erat antara otoritas fiskal dan moneter diharapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan.

Lebih lanjut, ia mengatakan surplus neraca perdagangan yang berlanjut terutama bersumber dari berlanjutnya surplus neraca perdagangan nonmigas. Hal ini menunjukkan sektor nonmigas menjadi penopang utama kinerja perdagangan nasional.

Kontribusi nonmigas yang konsisten memperlihatkan struktur ekspor yang semakin terdiversifikasi. Ketergantungan terhadap komoditas tertentu pun dapat ditekan melalui penguatan sektor manufaktur.

Surplus Nonmigas Jadi Penopang Utama

Neraca perdagangan nonmigas pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar 3,23 miliar dolar AS. Capaian ini terjadi seiring tetap kuatnya ekspor nonmigas sebesar 21,26 miliar dolar AS.

Kinerja ekspor nonmigas yang solid mencerminkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional. Permintaan global terhadap sejumlah komoditas dan produk manufaktur tetap terjaga.

Kinerja positif ekspor nonmigas tersebut terutama didukung oleh ekspor berbasis sumber daya alam seperti lemak dan minyak hewani atau nabati. Selain itu, produk manufaktur seperti nikel dan barang daripadanya juga menjadi kontributor utama.

Ekspor kendaraan dan bagiannya, mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya, serta alas kaki turut menopang performa tersebut. Diversifikasi komoditas ini memberikan bantalan tambahan terhadap fluktuasi harga global.

Berdasarkan negara tujuan, ekspor nonmigas ke Tiongkok, Amerika Serikat, dan India tetap menjadi kontributor utama ekspor Indonesia. Ketiga negara tersebut menjadi pasar strategis bagi produk nasional.

Permintaan dari negara-negara mitra dagang utama itu menjaga volume ekspor tetap tinggi. Hubungan perdagangan yang kuat dengan pasar besar dunia memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

Defisit Migas Masih Membayangi

Sementara itu, neraca perdagangan migas tercatat defisit sebesar 2,27 miliar dolar AS pada Januari 2026. Kondisi ini sejalan dengan penurunan ekspor migas di tengah menurunnya impor migas.

Defisit pada sektor migas masih menjadi tantangan struktural dalam perdagangan Indonesia. Ketergantungan terhadap impor energi menjadi faktor yang memengaruhi keseimbangan neraca migas.

Meski demikian, surplus nonmigas yang lebih besar mampu menutup defisit tersebut. Kombinasi ini membuat neraca perdagangan secara keseluruhan tetap berada di zona positif.

Kondisi surplus memberikan ruang bagi penguatan cadangan devisa. Stabilitas eksternal yang terjaga juga mendukung kepercayaan pelaku pasar terhadap perekonomian Indonesia.

Secara keseluruhan, surplus sebesar 0,95 miliar dolar AS pada Januari 2026 memperpanjang tren positif perdagangan. Capaian ini menjadi fondasi penting dalam menjaga ketahanan eksternal di tengah ketidakpastian global.

Bank Indonesia menilai kesinambungan surplus menjadi indikator fundamental yang solid. Dengan sinergi kebijakan yang terus diperkuat, stabilitas ekonomi nasional diharapkan tetap terjaga.

Peran ekspor nonmigas yang dominan menunjukkan transformasi struktur perdagangan yang semakin baik. Dukungan dari komoditas sumber daya alam dan manufaktur memberikan keseimbangan yang lebih sehat.

Di sisi lain, tantangan defisit migas tetap memerlukan perhatian berkelanjutan. Upaya diversifikasi energi dan peningkatan efisiensi impor menjadi agenda penting ke depan.

Dengan kombinasi surplus nonmigas yang kuat dan koordinasi kebijakan yang solid, ketahanan eksternal Indonesia dinilai tetap terjaga. Momentum ini diharapkan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index