JAKARTA - Di tengah padatnya lalu lintas kawasan Plaju, seorang pengemudi becak motor bernama Asnawi tetap setia menunggu penumpang di sisi jalan.
Ia menjalani aktivitas tersebut dengan sabar sembari memperhatikan arus kendaraan yang silih berganti. Bentor yang terparkir di sampingnya menjadi saksi rutinitas yang telah ia lakoni puluhan tahun.
Asnawi merupakan pria paruh baya yang telah menekuni profesi sebagai pengemudi bentor sejak awal dekade 1990-an. Pekerjaan itu dipilihnya sebagai jalan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Seiring waktu, profesi tersebut menjadi bagian penting dari kesehariannya.
Setiap pagi, Asnawi mulai bekerja dengan menyusuri jalanan Plaju dan sekitarnya. Ia berangkat sejak pukul tujuh pagi dan mengakhiri aktivitas menjelang sore hari. Waktu tersebut digunakan untuk mencari penumpang dari berbagai kalangan.
Pola Kerja dan Penetapan Tarif
Dalam menjalankan pekerjaannya, Asnawi memiliki pola kerja yang konsisten. Ia berkeliling di rute yang sama hampir setiap hari demi menjaga peluang mendapatkan penumpang. Kesabaran menjadi modal utama dalam menghadapi kondisi lalu lintas yang semakin padat.
Untuk sekali perjalanan, Asnawi mematok tarif mulai dari lima belas ribu rupiah. Besaran tarif tersebut disesuaikan dengan jarak tempuh yang diminta penumpang. Ia berusaha tetap bersikap fleksibel agar penumpang merasa terbantu.
Pendapatan yang diperoleh setiap hari tidak selalu menentu. Ada hari-hari tertentu ketika penumpang datang silih berganti. Namun, tidak jarang pula ia harus menunggu cukup lama tanpa kepastian.
Dampak Perubahan Transportasi Modern
Asnawi mengungkapkan bahwa jumlah penumpang saat ini jauh berkurang dibandingkan masa sebelumnya. Ia mengenang masa ketika bentor menjadi pilihan utama masyarakat untuk bepergian jarak dekat. Kondisi tersebut kini berubah seiring perkembangan zaman.
Menurutnya, perubahan signifikan terjadi sejak hadirnya layanan ojek berbasis aplikasi. Banyak masyarakat beralih karena dianggap lebih praktis dan cepat. Persaingan tersebut membuat penghasilan pengemudi bentor menurun drastis.
Ia juga menyampaikan bahwa waktu menunggu penumpang kini semakin lama. Dalam kondisi tertentu, ia harus menunggu hingga satu jam tanpa mendapatkan penumpang. Situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam mempertahankan penghasilan harian.
Bertahan dengan Pekerjaan dan Pengabdian Sosial
Meski menghadapi berbagai tantangan, Asnawi memilih untuk tetap bertahan sebagai pengemudi bentor. Baginya, bentor bukan sekadar alat mencari nafkah. Kendaraan itu telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Ia menuturkan bahwa hasil dari menarik bentor telah membesarkan anak-anaknya. Kenangan tersebut membuatnya enggan meninggalkan profesi yang telah lama digeluti. Rasa tanggung jawab terhadap keluarga menjadi penguat langkahnya.
Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Asnawi juga memiliki pekerjaan tambahan. Pada malam hari, ia mengajar mengaji anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya. Aktivitas tersebut dijalani dengan penuh keikhlasan sebagai bentuk pengabdian.
Harapan di Tengah Kesederhanaan
Salah seorang penumpang bernama Lina mengaku masih memilih bentor sebagai sarana transportasi. Ia menilai bentor lebih ramah dan membantu, terutama untuk perjalanan jarak dekat. Sikap pengemudi yang bersahabat menjadi nilai tambah tersendiri.
Di tengah arus modernisasi transportasi, keberadaan bentor memang semakin terpinggirkan. Namun, masih ada masyarakat yang setia memanfaatkannya karena alasan kenyamanan. Kondisi ini memberikan harapan bagi pengemudi seperti Asnawi.
Dengan kesederhanaan dan keteguhan hati, Asnawi terus menjalani profesinya. Ia berharap bentor tetap memiliki tempat di hati masyarakat. Harapan tersebut menjadi penyemangat untuk terus bertahan di tengah perubahan zaman.